Sabtu, 05 November 2011

KLASIFIKASI GEOLOGI ENDAPAN MINERAL


Berdasarkan hasil-hasil penyelidikan didalam pencarian endapan mineral, ternyata endapan mineral didapatkan pada tempat-tempat tertentu dengan kondisi-kondisi geologi tertentu dan berhubungan erat dengan proses kejadian/ genesa dan cara pengendapannya.

Pada umumnya jenis endapan logam dan non logam terbentuk karena proses mineralisasi yang diakibatkan oleh aktivitas magma. Pembentukan mineral tersebut terjadi baik pada batuan beku sebagai batuan induknya maupun pada batuan samping yang ikut terpengaruh karena proses magmatis tersebut.

2.1. HUBUNGAN DAN LOKALISASI ENDAPAN MINERAL
2.1.1. Hubungan Jenis Mineral dengan Jenis Batuan Beku

Pembentukan mineral secara magmatis erat hubungannya dengan temperature pendinginan magma asalnya, dimana komponen mineralnya terbentuk pada thermometer geologi tertentu. Pada kondisi thermometer geologi tertentu kadang tidak hanya ditemukan satu jenis mineral saja, tetapi kadang-kadang terbentuk asosiasi beberapa mineral baik logam maupun non logam.

Dari jenis asosiasi mineral yang terbentuk karena proses pendinginan magma maka terbentuk pula jenis-jenis batuan beku yang berbeda-beda yang sesuai komposisi magma asalnya. Oleh karena itu berbagai jenis batuan beku pada umumnya memperlihatkan asosiasi mineral-mineral tertentu. Sebagai contoh yang telah ditemukan dilapangan :
  • Di Sulawesi pada Teluk Bone sebela timur terdapat batuan beku ultrabasa (peridotit) yang menghasilkan mineral nikel (garnierite)
  • Di Pulau-pulau Bangka Belitung dan Singkep ditemukan endapan mineral timah (kasiterit) yang terdapat pada batuan beku asam (granit)
  • Di Afrika daerah Kimberlain terdapat batuan ultrabasa yang disebut Kimberlit mengandung mineral intan


2.1.2. Hubungan Pembentukan Mineral dengan Aktivitas Gunungapi

Aktivitas vulkanik gunungapi sering menghasilkan endapan baik berupa mineral logam maupun non logam. Endapan tersebut terbentuk karena proses sublimasi dari gas dan uap yang dikeluarkannya. Akibat sampingan dari aktivitas vulkanik terhadap material disekitarnya yang berupa air tanah dan air meteorik sering pula menghasilkan endapan mineral tertentu.

Contoh endapan yang dapat dihasilkan adalah : belerang, fosfor dan mineral-mineral logam (Pb, Zn, Bi, Cu, Fe). Kadang-kadang endapan tersebut dapat bernilai ekonomis. Disamping endapan mineral tersebut, aktivitas gunungapi juga dapat menghasilkan panas bumi yang disebut energi panas bumi / geothermal energy. 


2.1.3. Hubungan Pembentukan Mineral dengan Jenis Batuan Metamorf dan Sedimen

Pada batuan metamorf yang terbentuk baik karena pengaruh intrusi batuan beku atau karena proses metamorfosis lainnya sering membentuk mineral-mineral yang bisa dimanfaatkan. Contohnya : Asbes, Grafit, Talk dan lain-lain.

Pada proses sedimentasi dan segala aspeknya yang membentuk batuan sedimen baik itu sedimen mekanis, residu maupun evaporitsering menghasilkan endapan mineral primer maupun sekunder yang bersifat ekonomis. Contoh : Batugamping, lempung, gypsum, fosfat, mangan, pasir, pasir besi dan lain-lainnya.

Yang mempengaruhui terbentuknya endapan-endapan mineral disamping asosiasi jenis atuan, ada pula faktor-faktor lain yang ikut berpengaruh. Faktor-faktor tersebut adalah :
  1. Gaya Tektonik yang bekerja
  2. Deformasi batuan (struktur) yang terbentuk
  3. Sifat dan keadaan batuan yang mengalami proses mineralisasi, tekstur, komposisi dan reaktivitas/ permeabilitasnya.


2.2. KLASIFIKASI PEMBENTUKAN ENDAPAN MINERAL

Klasifikasi pembentukan endapan mineral dibuat dengan tujuan untuk mengenal dan mempermudah cara eksplorasi dari endapan mineral yang ditemukan. Dasar pengklasifikasian endapan mineral adalah :
  1. Jenis dan asosiasi kandungan mineral
  2. Bentuk dan ukuran
  3. Cara terbentuknya
  4. Proses Kejadian / genesanya

Sejak beberapa abad yang lalu, telah dilakukan usaha-usaha pembuatan klasifikasi tersebut. Usaha-usaha trersebut disesuaikan dengan keadaan dan kemajuan industri, peradaban dan ilmu pengetahuan pada saat itu. Semakin lama klasifikasi yang dibuat semakin lengkap dan kompleks, hal ini disebabkan karena banyak ditemukan jenis-jenis endapan baru. Walaupun demikian pembuatan klasifikasi selalu diusahakan supaya sistematis, mudah dipelajari dan bisa diterapkan pada kenyataan dilapangan.

Dari beberapa klasifikasi tersebut  satu dengan yang lain agak berbeda pengklasifikasiannya, hal ini disebabkan karena perbedaan penekanan tertentu didalam tinjauannya. Oleh karena itu setiap klasifikasi dapat dipakai dengan mengetahui dasar-dasar yang digunakan oleh penulis yang bersangkutan.

Berikut beberapa pengklasifikasian endapan mineral :
  1. Beck, 1904
                 I.    Primary
A.    Syngenetic / bersamaan dengan pembentukan batuan induk
a.     Magmatic Segregations
b.     Sedimentary ores
B.    Epigenetic
a.     Veins
b.     Epigenetic deposits not veins
                II.    Secondary
A.    Residual
B.    Placers

  1. Bergeat & Stelzner. 1904
                 I.    Protogene
A.    Syngenetic / bersamaan dengan pembentukan batuan induk
a.     With eruptive rocks
b.     With sedimentary rocks
B.    Epigenetic
a.     Cavity fillings
b.     Replacements
                II.    Secondary
A.    Residual
B.    Placers


  1. Irving, 1908
                 I.    Bedrock Deposits
A.    Syngenetic / bersamaan dengan pembentukan batuan induk
a.     Igneous
b.     Sedimentary
B.    Epigenetic
a.     Cavity fillings
b.     Replacements
c.     Contact metamorphic deposits
                II.    Disintegration deposits
A.    Mechanical
B.    Chemical

  1. Modifikasi dari klasifikasi Irving, 1908
                 I.    Bedrock Deposits
A.    Syngenetic deposits / bersamaan dengan pembentukan batuan induk
a.     Igneous
b.     Sedimentary
B.    Epigenetic deposits
a.     Cavity fillings : (a) fissure veins, (b) shear zones, (c) ladder veins, (d) stockworks, (e) saddle-reefs, (f) tension-crack fillings, (g) solution cavity fillings (caves, channels, gash veins), (h) breccia fillings, (i) pore-space fillings, (j) vesicular fillings
b.     Replacements deposits : (a) massive, (b) lode, (c) disseminated
c.     Contact metamorphic deposits
                II.    Disintegration deposits
A.    Mechanical
B.    Residual
C.    Chemical

  1. Lindgren, 1911
                 I.    Deposits by Mechanical Process
                II.    Deposits by Chemical Process
A.    In surface waters
a.     By reactions : T = 0-70o C; P = medium to high
b.     Evaporation


B.    In bodies of rocks
a.     Concentration of subtances
Contained within rocks :
·         By weathering : T = 0-100oC; P = medium
·         By ground water : T = 0-100oC; P = medium
·         By metamorphism : T = 10-400oC, P = high
b.     By introduced substances
·         Without igneous activity : T = 0-100oC; P = medium
·         Related to igneous activity
§  By ascending waters
o    Epithermal deposits : T = 50-200oC; P = medium
o    Mesothermal deposits : T = 200-300oC; P =high
o    Hypothermal deposits : T = 300-500oC; P = High+
§  By direct igneous emanations
o    Pyrometasomatics deposits : T = 500-800oC; P = high+
o    Sublimates : T = 100-600oC; P =low to medium

c.     In magmas by differentiation
·         Magmatic deposits : T = 700-1500oC; P = high+
·         Pegmatites

              III.    Disintegration deposits
A.    Mechanical
B.    Residual
C.    Chemical

  1. Lindgren, 1922
                 I.    Hydrothermal deposits
A.    Epithermal : T = 50-200oC
B.    Mesothermal : T = 200-360oC
C.    Hypothermal : T = 360 -500oC
                II.    Emanation deposits
A.    Sublimates
B.    Exudation veins, surface type
C.    Pyrometasomatic deposits
D.    Exudation veins, deep-scated type
              III.    Magmatic deposits
A.    Orthotectic
a.     Differentiation in situ
b.     Injeccted
B.    Pneumotectic
a.     Differentiation in situ
b.     Injected

  1. Schneiderhohn, 1932
                 I.    Magmatic rocks and ore deposits
A.    Intrusive magmatic
I.        Intrusive rocks and liquid magmatic deposits
I – II . Liquid magmatic-pneumatolyric
II.       Pneumatolytic
1.     Pegmatite veins
2.     Pneumatolitic veins and impregnations
3.     Contact pneumatolytic
     II –III.  Pneumatolytic-hydrothermal
     III.       Hydrothermal
B.    Extrusive magmatic
a.     Extrusive-hydrothermal
b.     Exhalation
                II.    Sedimentary deposits
A.    Weathered zone (oxidation and enrichment)
B.    Placers
C.    Residual
D.    Biochemical-inorganic
E.     Salts
F.     Fuels
G.    Desending ground water deposits
              III.    Metamorphic deposits
A.    Thermal contact metamorphism
B.    Metamorphic rocks
C.    Methamorphosed ore deposits
D.    Rarely formed metamorphic deposits 

  

Oleh : Safitri D Wulandari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar